Si Tuli dari “Tanah Matahari Terbit”

.

“Berbicaralah yang keras, lebih keras lagi karena pendengaranku kurang tajam.” Begitu permintaan Syeikh Hatim kepada setiap warga kota Balkh yang kebetulan menjadi lawan bicaranya pada event apapun. Warga Balkh mengenalnya sebagai ‘ulama yang tuli, karena kata-kata itu hampir diucapkan berulang-ulang saat dialog berlangsung. Kata-kata tersebut selalu diucapkan oleh Hãtim dan itu sudah menjadi kebiasaannya, karena sudah 15 tahun lamanya ia selalu mengucapkan hal itu kepada siapa saja yg menjadi lawan bicaranya.

Sungguh komunikasi yang melelahkan bagi kedua belah pihak. Yang satu merasa sudah begitu jelas mengucapkan kata demi kata, kalimat demi kalimat. Ternyata yang lain tak satupun

kata dapat dimengerti. Apalagi hal itu dialami dalam waktu yang cukup lama.

Hatim bukan tidak mendengar. Dia tidak tuli, budek apalagi bolot. Dia tidak punya masalah dengan pendengarannya. Dia masih jelas mendengar alunan adzan dikumandangkan. Gemericik air saat orang-orang berwudhu di masjidnya. Desir angin yang menimbulkan suara gesekan pada pelepah kurma di halaman rumahnya masih jelas terdengar. Bahkan jarum jatuh pun telinganya masih menangkap suaranya.

Hãtim melakukan itu bukan untuk mencari sensasi atau tanpa tujuan sama sekali. Dia melakukannya dengar sadar, walau karena perbuatannya itu orang kemudian menjulukinya ‘Si Tuli’. Anehnya julukan yang biasanya untuk merendahkan itu buatnya justru merupakan gelar kehormatan yang mengabadikan akhlak terpujinya sehingga ia dihargai oleh umat manusia sepanjang masa.

Gelar buruk, namun terhormat itu didapatkan Hatim ketika pada suatu saat seorang wanita paruh baya datang ke tempat yang biasa ia gunakan untuk pelajaran yang juga merupakan tempat penyimpanan ratusan kitab-kitabnya. Wanita itu bermaksud menanyakan suatu masalah yang bermaksud mendapatkan jawabannya dengan segera. Tanpa disengaja, wanita itu telah mengeluarkan angin -maaf kentut, pent– dengan sedikit keras di hadapan Hatim. Maka wanita itupun menjadi salah tingkah. Dia sadar insiden kecil itu terjadi di hadapan seorang tokoh besar dan berpengaruh di negerinya.

Maklum dalam pergaulan ‘buang angin’ di depan umum tentu perbuatan yang memalukan. Intinya dalam pergaulan hal itu adalah menyangkut etika, moral dan sopan santun. Namun di jaman sekarang apakah itu masih diangap kesopanan. Lihat saja dalam sebuah tayangan komedi Extravaganza di Trans TV perbuatan tabu dan ‘menjijikkan’ itu dengan berani didemonstrasikan di depan umum dan menjadi bahan tertawaan. Anehnya adegan orang kentut lengkap dengan suara khasnya dilakukan sampai dua kali. Adegan tersebut jelas tidak lucu, tidak cerdas, tidak sopan dan berkesan memuakkan. Sungguh, adegan yang tidak sepantasnya dipertontonkan. Lebih miris lagi acara tersebut menyabet Panasonic Award yang mendudukkannya sebagai acara paling digemari penonton. Boleh jadi sekarang kentut (dan perilaku busuk lainnya) sudah menjadi komoditi.

Akan tetapi pada situasi sulit yang dihadapi wanita ini, Hatim adalah orang yang bijak, ia sangat menguasai keadaan dan mengerti betul bagaimana perasaan wanita itu. Sudah barang tentu wanita ini sangat malu dengan tingkahnya di hadapan Hatim. Namun Hatim pura-pura tidak tahu dengan apa yang tengah terjadi padanya.

“Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan”, Hatim berpura-pura tuli agar wanita itu menyangkanya tidak mendengar. Insiden tidak disengaja itu membuat wanita itu malu, kemudian wanita itu pun mengulangi ucapannya dengan agak keras dan Hatim pun menjawabnya dengan suara agak keras pula.

Setelah urusan mereka beres, wanita itu pulang dengan gembira karena merasa terselamatkan setelah memastikan bahwa ternyata Hatim yang diajak bicara itu tuli. Semenjak peristiwa itu, selama kira-kira 15 tahun wanita itu masih hidup, selama itu pula Hatim tetap berlagak tuli. Ini dilakukannya agar tak ada seorang pun yang memberitahu wanita itu perihal kondisi yang sebenarnya. Setelah wanita itu meninggal barulah Hatim menjawab semua pertanyaan secara spontan karena sesungguhnya pendengarannya masih normal selayaknya orang lain.

Demi menjaga harga diri orang lain, Hãtim begitu ikhlas ditambah laqob al-Ashom di belakang namanya menjadi Hatim al-Ashom, meskipun pendengaran beliau sehat wal afiat. Begitulah kemudian para koleganya memberinya ¬laqab (julukan): ” الأصم ” Si Tuli. Sungguh mulia budi pekerti Hatim, sehingga ia rela untuk berpura-pura selama 15 tahun demi menjaga perasaan wanita itu. Hal ini diceritakan dalam kitab Al-Mau’izhotul ‘Usfûriyyah (Pesan Burung-burung Manyar).

Begitulah Hatim dengan kerendahan hatinya yang justru mengungkapkan kekuatan jiwanya. Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk.Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa ‘oke’ dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Begitulah Syeikh Hatim yang nama aslinya Abu Abdurrahman Hatim Bin ‘Umwan Bin Yusuf Al Ashom, lebih dikenal Hatim Al-Ashom. Lahir di Balkh dan wafat di Wasyjard dekat Tirmiz pada tahun 237 H/852 M., termasuk salah seorang tokoh besar di Khurasan. la murid dari Syeikh Syaqiq Al-Balkhi (Abu Ali Bin Ibrahim Al-Azadi ) penduduk kota Balkh. Syeikh Syaqiq adalah ‘ulama tersohor di Khurasan yang juga menemani Ibrahim bin Adam dan belajar ad-din darinya. Ia juga mengisnadkan hadits dari Anas ra.

Khurasan negeri yang menjadi tumpah darahnya memang gudang para ulama. Dahulunya wilayah ini dikuasai Kaisar Persia, kemudian ditaklukkan oleh pasukan kaum muslimin dibawah komandan perang Ahnaf bin Qais sewaktu kepemimpinan Al Faruq ra. Hampir seluruh negara di Asia Selatan dahulunya termasuk wilayah Khurasan ini. Kini, nama Khurasan tetap abadi menjadi sebuah nama provinsi di sebelah Timur Iran. Luas provinsi itu mencapai 314 ribu kilometer persegi. Khurasan Iran berbatasan dengan Republik Turkmenistan di sebelah Utara dan di sebelah Timur dengan Afganistan. Dalam bahasa Persia, Khurasan berarti ‘Tanah Matahari Terbit.’

Hatim al-Ashom bukan nama asing dalam khazanah tasawuf. Hatim adalah ulama mujahid yang amat disegani, disamping juga profesinya sebagai pedagang. Wibawanya memancar karena kezuhudan, ketekunan ibadah dan pembelaannya terhadap rakyat kecil. Dalam perjuangan mempertahankan Islam dengan kekuatan senjata pun beliau terlibat dalam banyak peperangan dan ikut serta di tengah kecamuk peperangan itu.

Pernah suatu saat, Hatim bersama rombongan melakukan ibadah Haji. Karena perbekalan yang dibawa sedikit, rombongan itu memutuskan bermalam di rumah seorang saudagar yang pemurah. Keesokan harinya, tuan rumah pun bertanya kepada Hatim.

“Apakah tuan ada keperluan setelah ini? Masalahnya kami bermaksud mengunjungi Syeikh kami yang sedang sakit,” Tuan rumah menjelaskan.

“Mengunjungi orang sakit banyak pahalanya. Apalagi memandang wajah seorang ulama adalah ibadat. Saya akan ikut bersama tuan.” Komentar Hatim menimpali.

Bersama saudagar itu, Hatim berkunjung ke rumah Muhammad Bin Muqathil, seorang ulama terkenal di negeri Ar-Ray. Hatim tercenung memandangi rumah sang Syeikh (Muqathil). Rumah itu begitu luas, megah dan sangat indah. Kamar tempat tidur nya pun begitu mewah. Di tengah keterperangahannya Hatim dipersilahkan duduk, tetapi dia tetap berdiri.

“Barangkali Anda perlu sesuatu? Tanya Syeikh Muqathil kepada Hatim.

“Betul, ada masalah yang ingin saya tanyakan.” Cetus Hatim.

“Bertanyalah!” Tegas Syeikh itu kepada Hatim.

“Dari manakah tuan dapatkan ilmu tentang ini semua?” Tanya Hatim sambil menunjuk sekelilingnya.

“Dari orang yang dapat dipercaya, dari para sahabat Nabi, dari Rasulullah, dari Jibril dan dari Allah swt.” Jawab Syeikh Muqathil.

“Apakah dari guru-guru tuan, dari sahabat Nabi, dari Allah swt tuan mendapatkan pelajaran supaya tuan hidup mewah?”

“Apakah mereka mengajarkan bahwa memiliki rumah besar akan meninggikan derajat kita di hadapan Allah?” Hatim menyelidik.

“Tidak, bahkan mereka mengajarkan kami zuhud, mencintai akhirat, menyayangi orang miskin. Dengan itulah orang mendapat kedudukan tinggi di hadapan Allah.” Jawab Syeikh Muqathil.

” Bila benar begitu, siapakah guru tuan sebenarnya?”

“Para Nabi, sahabat, orang-orang sholeh atau fir’aun dan Namrud yang mendirikan gedung bertahtakan pualam?”

Kalimat nasehat itupun meluncur saja dari kecerdasan Hatim. Kabarnya sakit Ibnu Muqhatil makin parah. Penduduk Ar-Ray gempar. Mereka mendatangi Hatim, dan mengatakan: “Hai Tuan, ada ‘ulama yang lebih mewah dari Ibnu Muqhatil, namanya Al-Tanafisi. Dia tinggal di Qazwin. Berilah dia juga peringatan.”

Hatimpun lalu datang ke Qazwin, menemui Al-Tanafisi.

Sesampainya di rumah megah sang ulama, ia bergumam, “Inikah sosok pewaris Nabi?” Lalu diketuknya pintu rumah dan meminta izin bertemu dengan sang ulama. Dilihatnya isi rumah dipenuhi dengan perabotan mahal dan sang ulama sendiri tengah berbaring di atas ranjang empuk, dikipasi bujang-bujangnya.

“Guru, ajarkan saya cara wudhunya Rasulullah,” Pinta Hatim kemudian.

Di atas ranjang, sang ulama lalu mencontohkan cara berwudhu. Hatim menirunya dengan sedikit perbedaan. Sang ulama menegur, “Basuhlah sebanyak tiga kali, jangan lebih karena itu merupakan tabdzir (pemborosan)“.

Beroleh kesempatan, Hatim menukas lantang, “Guru, anda beroleh ilmu ini dari tabi’in, tabi’in dari sahabat, dan sahabat dari Rasulullah. Pernahkah beliau mengajarkan hidup boros dan mewah seperti ini? Jika Guru berkata kelebihan satu basuhan saja dianggap tabdzir, lalu bagaimana dengan semua kemewahan ini?”

Imam Ahmad mendengar berita ini, maka beliau langsung mendatangi Hatim dan meminta nasehat. Imam besar pendiri Madzhab Hambali ini, tidak segan-segan bertanya kepadanya. “Subhanallah, alangkah cerdasnya Hatim, ” kata Imam Ahmad dengan penuh kagum.

Mencermati formulasi dialog yang bernuansa nasehat dengan kalimat-kalimat retoris ini wajar bila Imam Ahmad merasa kagum dengan kecerdasan Hatim. Bukan saja cerdas, tetapi juga berani. Persis seperti sifat air yang dipakai berwudhu, Hatim laksana air suci yang mensucikan (Thoohirun Muthohhirun Ghairu Makhruuhun ). Dia menjaga dirinya dari kemaksiatan. Dia juga mengingatkan orang lain untuk memelihara kesucian. Berbeda dengan kebanyakan orang yang ‘Sok alim’, dia dengan berani melakukan kontrol sosial. Dia mempertahankan keyakinannya dengan meninggalkan arus dengan tegas, dia menantang arus. Dan bila dia menuntut ilmu dikuti dengan tekun. Dia tampil mengingatkan para ulama yang lupa. Dia tidak membenci orang yang mencari nafkah dengan halal. Dia juga tidak senang dengan orang-orang yang hidup mewah, apalagi bila orang itu adalah ulama. Dia menghujat para ulama yang begitu sensitive membincangkan cara berwudhu, tetapi tidak peka terhadap persoalan kemasyarakatan. Ulama yang berang bila melihat bid’ah dalam ibadat, tetapi sangat tenang ketika melihat disparitas sosial-ekonomi di sekitarnya. Kepada ulama seperti inilah Hatim datang.

0 comment:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar